Pembangunan
desa pada era saat ini tidak lagi hanya diukur dari banyaknya infrastruktur
yang dibangun, tetapi dari sejauh mana infrastruktur tersebut mampu menjadi
penggerak ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan
kemandirian desa yang berkelanjutan. Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tengah menapaki arah pembangunan
tersebut melalui perencanaan pembangunan Embung Lojajar Kalurahan Margorejo
yang dirancang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal. Dalam
proses mewujudkan rencana tersebut, pendampingan kepada Pemerintah Kalurahan
Margorejo menjadi bagian penting agar seluruh tahapan perencanaan berjalan
sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Salah satu kegiatan
yang telah dilaksanakan adalah koordinasi penyusunan Detailed Engineering Design
(DED) Embung Lojajar bersama Pusat Pengembangan Kawasan Perdesaan (PUKP) Kabupaten
Sleman yang diharapkan satu minggu ke depan sudah selesai. Ulu ulu
Kalurahan Margorejo, Faisal Indrawan menegaskan bahwa saat ini, koordinasi
tersebut telah dilaksanakan sebanyak tiga kali sebagai bentuk keseriusan
seluruh pihak dalam menyusun perencanaan yang matang, komprehensif, dan mampu
menjawab kebutuhan masyarakat, selanjutnya Beliau juga menyampaikan “……bila
kelengkapan data sudah siap Insya Allah, tahun 2027 pelaksanaan kegiatan ini
akan direalisasikan…..” lanjutnya, bahwa koordinasi terus dilakukan dengan
Lurah dan Carik serta semua pihak yang terkait termasuk dengan Pendamping Desa.
Embung Lojajar
direncanakan dibangun di atas Tanah Kas Desa yang berada di Padukuhan Lojajar Kalurahan
Margorejo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta Adapun Embung Lojajar
diusulkan dengan anggaran Rp4,7 miliar dan luas genangan mencapai 7.867 meter
persegi. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki potensi yang sangat strategis
untuk dikembangkan menjadi kawasan terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai
infrastruktur konservasi air, tetapi juga menjadi kawasan ekonomi produktif.
Dengan luas lahan yang memadai, pengembangan kawasan dapat mengakomodasi
berbagai aktivitas yang saling terintegrasi, mulai dari sektor pertanian,
perikanan, wisata edukasi, perdagangan hasil pertanian, hingga pemberdayaan
usaha mikro masyarakat. Konsep pembangunan embung ini mengusung paradigma baru
bahwa infrastruktur desa harus mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung
kepada masyarakat. Embung tidak sekadar menjadi tempat penampungan air untuk
mendukung irigasi pertanian, tetapi juga dirancang sebagai pusat aktivitas
ekonomi Kalurahan Margorejo. Keberadaan embung diharapkan mampu meningkatkan
produktivitas lahan pertanian, memperkuat ketahanan pangan masyarakat,
sekaligus membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan warga.
Ketahanan
pangan menjadi salah satu tujuan utama dari pembangunan ini. Ketersediaan
sumber air yang lebih baik akan membantu petani menjaga kontinuitas produksi
pertanian sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau. Dengan demikian, risiko
gagal panen dapat ditekan, produktivitas meningkat, dan kebutuhan pangan
masyarakat dapat dipenuhi secara lebih mandiri. Selain itu, kawasan embung juga
berpotensi dikembangkan sebagai sentra budidaya perikanan air tawar,
hortikultura, serta kawasan edukasi pertanian yang memberikan nilai tambah bagi
masyarakat. Lebih jauh lagi, pembangunan Embung Lojajar dirancang sebagai
pengungkit pertumbuhan ekonomi lokal. Kawasan ini nantinya diharapkan mampu
menjadi ruang berkembangnya pelaku UMKM, pemasaran produk pertanian, kegiatan
wisata berbasis alam, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan sosial dan
ekonomi masyarakat. Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan
oleh sektor pertanian, tetapi juga menyentuh berbagai lapisan masyarakat
melalui terciptanya lapangan kerja dan meningkatnya aktivitas ekonomi desa.
Keberhasilan konsep tersebut sangat bergantung pada tata kelola kelembagaan
yang profesional. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan Embung Margorejo
direncanakan akan diserahkan kepada Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Semar
Margorejo. Langkah ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kalurahan untuk
menjadikan BUMKal sebagai motor penggerak ekonomi desa sekaligus pengelola aset
kalurahan yang produktif. Melalui manajemen yang profesional, transparan, dan
akuntabel, BUMKal diharapkan mampu mengoptimalkan seluruh potensi kawasan
sehingga memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Kalurahan (PAKal)
sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara pembangunan
infrastruktur, penguatan kelembagaan ekonomi desa, dan ketahanan pangan
merupakan fondasi penting dalam mewujudkan desa mandiri. Embung Margorejo
menjadi contoh bahwa pembangunan fisik akan memiliki nilai yang jauh lebih besar
ketika dirancang sebagai bagian dari sistem pembangunan ekonomi yang
terintegrasi. Kolaborasi antara Pemerintah Kalurahan, PUKP Kabupaten Sleman,
Pendamping Desa, BUMKal Semar Margorejo, serta masyarakat menjadi modal sosial
yang sangat berharga dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Peran pendampingan
selama proses koordinasi juga memiliki arti strategis. Pendampingan tidak hanya
memastikan bahwa proses perencanaan berjalan sesuai regulasi, tetapi juga
menjadi ruang untuk menyelaraskan berbagai kepentingan, mengidentifikasi
potensi dan tantangan, serta memastikan bahwa hasil perencanaan benar-benar
berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Tiga kali koordinasi yang telah
dilaksanakan menjadi bukti adanya komitmen bersama untuk menghasilkan dokumen
DED yang berkualitas sebagai dasar pelaksanaan pembangunan pada tahap
berikutnya.
Pada akhirnya, Embung Lojajar Kalurahan Margorejo bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Kalurahan Margorejo. Dengan memanfaatkan aset Tanah Kas Kalurahan secara produktif, memperkuat peran BUMKal Semar Margorejo sebagai pengelola kawasan, serta menjadikan ketahanan pangan sebagai pilar utama pembangunan, Kalurahan Margorejo sedang membangun fondasi menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Semangat kolaborasi yang telah terbangun diharapkan mampu menjadi contoh bahwa desa dapat tumbuh sebagai pusat pembangunan berbasis potensi lokal, sehingga mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, tangguh, dan mandiri.
"Rencana pembangunan embung ini sudah kita usulkan sejak November 2025, kami sudah mengajukan proposal ke pusat (Balai Besar), nantinya kita namai Embung Margorejo," ( Lurah Margorejo)"
Narasumber : Ulu ulu
Kalurahan Margorejo


Tidak ada komentar:
Posting Komentar