Jumat, 24 Juli 2026

Margorejo Menuju Kemandirian: Sinergi Infrastruktur, BUMKal, dan Ketahanan Pangan Masyarakat


Pembangunan desa pada era saat ini tidak lagi hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun, tetapi dari sejauh mana infrastruktur tersebut mampu menjadi penggerak ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan kemandirian desa yang berkelanjutan. Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tengah menapaki arah pembangunan tersebut melalui perencanaan pembangunan Embung Lojajar Kalurahan Margorejo yang dirancang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal. Dalam proses mewujudkan rencana tersebut, pendampingan kepada Pemerintah Kalurahan Margorejo menjadi bagian penting agar seluruh tahapan perencanaan berjalan sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan adalah koordinasi penyusunan Detailed Engineering Design (DED) Embung Lojajar bersama Pusat Pengembangan Kawasan Perdesaan (PUKP) Kabupaten Sleman yang diharapkan satu minggu ke depan sudah selesai.   Ulu ulu Kalurahan Margorejo, Faisal Indrawan menegaskan bahwa saat ini, koordinasi tersebut telah dilaksanakan sebanyak tiga kali sebagai bentuk keseriusan seluruh pihak dalam menyusun perencanaan yang matang, komprehensif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, selanjutnya Beliau juga menyampaikan  “……bila kelengkapan data sudah siap Insya Allah, tahun 2027 pelaksanaan kegiatan ini akan direalisasikan…..” lanjutnya, bahwa koordinasi terus dilakukan dengan Lurah dan Carik serta semua pihak yang terkait termasuk dengan Pendamping Desa.

Embung Lojajar direncanakan dibangun di atas Tanah Kas Desa yang berada di Padukuhan Lojajar Kalurahan Margorejo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta Adapun Embung Lojajar diusulkan dengan anggaran Rp4,7 miliar dan luas genangan mencapai 7.867 meter persegi. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki potensi yang sangat strategis untuk dikembangkan menjadi kawasan terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur konservasi air, tetapi juga menjadi kawasan ekonomi produktif. Dengan luas lahan yang memadai, pengembangan kawasan dapat mengakomodasi berbagai aktivitas yang saling terintegrasi, mulai dari sektor pertanian, perikanan, wisata edukasi, perdagangan hasil pertanian, hingga pemberdayaan usaha mikro masyarakat. Konsep pembangunan embung ini mengusung paradigma baru bahwa infrastruktur desa harus mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat. Embung tidak sekadar menjadi tempat penampungan air untuk mendukung irigasi pertanian, tetapi juga dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi Kalurahan Margorejo. Keberadaan embung diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan pertanian, memperkuat ketahanan pangan masyarakat, sekaligus membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan warga.

Ketahanan pangan menjadi salah satu tujuan utama dari pembangunan ini. Ketersediaan sumber air yang lebih baik akan membantu petani menjaga kontinuitas produksi pertanian sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau. Dengan demikian, risiko gagal panen dapat ditekan, produktivitas meningkat, dan kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi secara lebih mandiri. Selain itu, kawasan embung juga berpotensi dikembangkan sebagai sentra budidaya perikanan air tawar, hortikultura, serta kawasan edukasi pertanian yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Lebih jauh lagi, pembangunan Embung Lojajar dirancang sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi lokal. Kawasan ini nantinya diharapkan mampu menjadi ruang berkembangnya pelaku UMKM, pemasaran produk pertanian, kegiatan wisata berbasis alam, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian, tetapi juga menyentuh berbagai lapisan masyarakat melalui terciptanya lapangan kerja dan meningkatnya aktivitas ekonomi desa. Keberhasilan konsep tersebut sangat bergantung pada tata kelola kelembagaan yang profesional. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan Embung Margorejo direncanakan akan diserahkan kepada Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Semar Margorejo. Langkah ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kalurahan untuk menjadikan BUMKal sebagai motor penggerak ekonomi desa sekaligus pengelola aset kalurahan yang produktif. Melalui manajemen yang profesional, transparan, dan akuntabel, BUMKal diharapkan mampu mengoptimalkan seluruh potensi kawasan sehingga memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Kalurahan (PAKal) sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan ekonomi desa, dan ketahanan pangan merupakan fondasi penting dalam mewujudkan desa mandiri. Embung Margorejo menjadi contoh bahwa pembangunan fisik akan memiliki nilai yang jauh lebih besar ketika dirancang sebagai bagian dari sistem pembangunan ekonomi yang terintegrasi. Kolaborasi antara Pemerintah Kalurahan, PUKP Kabupaten Sleman, Pendamping Desa, BUMKal Semar Margorejo, serta masyarakat menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Peran pendampingan selama proses koordinasi juga memiliki arti strategis. Pendampingan tidak hanya memastikan bahwa proses perencanaan berjalan sesuai regulasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menyelaraskan berbagai kepentingan, mengidentifikasi potensi dan tantangan, serta memastikan bahwa hasil perencanaan benar-benar berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Tiga kali koordinasi yang telah dilaksanakan menjadi bukti adanya komitmen bersama untuk menghasilkan dokumen DED yang berkualitas sebagai dasar pelaksanaan pembangunan pada tahap berikutnya.

 Pada akhirnya, Embung Lojajar Kalurahan Margorejo bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Kalurahan Margorejo. Dengan memanfaatkan aset Tanah Kas Kalurahan secara produktif, memperkuat peran BUMKal Semar Margorejo sebagai pengelola kawasan, serta menjadikan ketahanan pangan sebagai pilar utama pembangunan, Kalurahan Margorejo sedang membangun fondasi menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Semangat kolaborasi yang telah terbangun diharapkan mampu menjadi contoh bahwa desa dapat tumbuh sebagai pusat pembangunan berbasis potensi lokal, sehingga mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, tangguh, dan mandiri.

"Rencana pembangunan embung ini sudah kita usulkan sejak November 2025, kami sudah mengajukan proposal ke pusat (Balai Besar), nantinya kita namai Embung Margorejo," ( Lurah Margorejo)"

Narasumber : Ulu ulu Kalurahan Margorejo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjemput Nahkoda Kedaulatan Air di Bumi Sembada: Catatan Dinamika FGD Kerjasama Kalurahan Kabupaten Sleman

Pagi di Sambirejo: Ketika Seruan Air Menggema dari Tebing Prambanan Angin pagi bertiup perlahan merayapi perbukitan Tebing Breksi, membawa k...